TOGA dan Bank Sampah: Pelajaran Pemberdayaan dari Kampus untuk Sekolah

Transformasi Masyarakat Melalui Edukasi dan Aksi Nyata

Dunia pendidikan terus berupaya mencari relevansi nyata dengan kebutuhan masyarakat. Salah satu contoh yang patut dicermati datang dari ranah perguruan tinggi, di mana Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jakarta dilaporkan oleh Republika Pendidikan tengah gencar melakukan program pengabdian kepada masyarakat. Program ini menyoroti pengembangan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dan bank sampah sebagai sarana pemberdayaan di tingkat desa. Inisiatif semacam ini tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sasaran, tetapi juga menawarkan banyak pelajaran berharga bagi guru dan institusi pendidikan di jenjang sekolah dasar hingga menengah di seluruh Indonesia.

@Gambar dibuat oleh AI

Pengembangan TOGA bukan sekadar menanam tanaman obat, melainkan sebuah upaya untuk meningkatkan kesadaran akan kesehatan mandiri dan pemanfaatan sumber daya alam lokal. Di sisi lain, bank sampah mengajarkan tentang pengelolaan limbah yang berkelanjutan, nilai ekonomi dari barang bekas, serta pentingnya partisipasi kolektif dalam menjaga kebersihan lingkungan. Kedua program ini, secara intrinsik, mengandung nilai-nilai edukatif yang sangat relevan untuk ditanamkan sejak dini di lingkungan sekolah.

Relevansi untuk Guru dan Sekolah di Indonesia

Lalu, bagaimana program seperti yang digagas UPN Veteran Jakarta ini relevan bagi guru dan dunia pendidikan kita?

1. Pendidikan Lingkungan yang Kontekstual

Salah satu pilar penting dalam Kurikulum Merdeka adalah pembelajaran berbasis proyek. Program TOGA dan bank sampah sangat cocok untuk diadaptasi menjadi proyek pembelajaran di sekolah. Guru dapat melibatkan siswa secara langsung dalam mendirikan kebun TOGA di lingkungan sekolah, belajar tentang jenis-jenis tanaman obat, manfaatnya, hingga cara membudidayakannya. Demikian pula dengan bank sampah, siswa bisa diajarkan cara memilah sampah, mengelola bank sampah mini di sekolah, serta memahami dampak positifnya bagi lingkungan dan ekonomi. Ini adalah praktik nyata pendidikan lingkungan yang tidak hanya teoritis.

2. Pengembangan Kewirausahaan Sosial Sejak Dini

Konsep bank sampah tidak hanya tentang kebersihan, tetapi juga tentang potensi ekonomi. Siswa dapat diajarkan bahwa sampah memiliki nilai jika dikelola dengan baik. Melalui bank sampah sekolah, siswa bisa belajar tentang manajemen sederhana, pencatatan, hingga bahkan ide-ide kreatif untuk mengolah sampah menjadi produk bernilai jual. Ini adalah bibit-bibit kewirausahaan sosial yang penting untuk masa depan mereka.

3. Keterampilan Abad ke-21: Kolaborasi dan Pemecahan Masalah

Program pemberdayaan masyarakat seperti ini membutuhkan kolaborasi antaranggota, baik dalam penanaman TOGA maupun pengelolaan sampah. Di sekolah, guru dapat memfasilitasi siswa untuk bekerja dalam tim, berdiskusi mencari solusi untuk masalah lingkungan di sekitar mereka, serta mengimplementasikan ide-ide tersebut. Keterampilan kolaborasi, komunikasi, berpikir kritis, dan kreativitas akan terasah dengan sendirinya.

4. Peran Sekolah sebagai Pusat Komunitas

Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga pusat komunitas. Inisiatif seperti TOGA dan bank sampah dapat diperluas untuk melibatkan orang tua dan masyarakat sekitar sekolah. Misalnya, siswa bisa menjadi agen perubahan yang mengedukasi keluarga mereka tentang TOGA atau pentingnya memilah sampah. Sekolah Adiwiyata, misalnya, sudah lama mengimplementasikan berbagai program lingkungan yang melibatkan seluruh warga sekolah dan masyarakat sekitar.

5. Integrasi Lintas Mata Pelajaran

Pengembangan TOGA dan bank sampah dapat diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran. IPA untuk biologi tanaman dan ekosistem; Matematika untuk perhitungan volume sampah atau keuntungan; Bahasa Indonesia untuk membuat poster edukasi atau laporan proyek; hingga Seni Budaya untuk membuat kerajinan dari daur ulang. Guru memiliki keleluasaan untuk merancang pembelajaran yang holistik dan interdisipliner.

Tantangan dan Harapan

Tentu saja, mengadaptasi program seperti ini di sekolah tidak lepas dari tantangan, mulai dari keterbatasan lahan, dana, hingga kemampuan guru dalam mengelola proyek. Namun, dengan semangat inovasi dan kolaborasi, banyak sekolah telah membuktikan bahwa hal tersebut dapat diwujudkan. Dukungan dari kepala sekolah, komite sekolah, hingga dinas pendidikan sangat krusial.

Pelajaran dari UPN Veteran Jakarta ini mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak boleh berhenti di ruang kelas. Pendidikan harus membumi, menjawab tantangan lokal, dan memberdayakan masyarakat. Guru memiliki peran sentral dalam menerjemahkan semangat ini ke dalam praktik sehari-hari di sekolah, membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga peduli lingkungan, mandiri, dan berjiwa sosial.

Sumber: Republika Pendidikan diakses tanggal 27 Juli 2026 Jam 21.30 WIB

You may also like...