Polemik Mega Korupsi Digitalisasi Pendidikan: Prof. Didik Sebut Nadiem Terjebak “Perangkap Politik”

@ Gambar dari Akurat.co
GuruBelajar.com — Kasus dugaan korupsi yang menyeret nama Nadiem Makarim kini menjadi pusat perhatian publik. Proyek yang awalnya digadang-gadang sebagai tonggak transformasi modernisasi pendidikan Indonesia ini disebut-sebut merugikan negara dengan nilai fantastis, mencapai Rp10 triliun.
Angka ini bahkan disebut dua kali lipat lebih besar dari kasus legendaris korupsi e-KTP. Prof. Didik J. Rachbini menilai ada kegagalan fundamental dalam pendekatan yang digunakan sejak awal.
Kritik Tajam Prof. Didik J. Rachbini
1. Kesalahan “Tech-Solutionism”. Didik menilai kebijakan era Nadiem salah kaprah karena menganggap transformasi pendidikan bisa “disulap” hanya melalui solusi teknologi (tech-solutionism), tanpa mempertimbangkan kompleksitas birokrasi dan realitas sosial-politik di Indonesia.
2. “Silau” Terhadap Prestasi Startup. Mantan Presiden Jokowi disebut terlalu terpukau dengan kecepatan Nadiem membangun Gojek. Hal ini membuat pemerintah memberikan dukungan penuh (endorsement) tanpa mitigasi risiko yang kuat terhadap anggaran publik yang sangat besar.
3. Minimnya Modal Sosial Politik. Meskipun lincah di dunia bisnis, Nadiem dinilai tidak memiliki modal politik yang cukup untuk bernavigasi di birokrasi kelas atas yang penuh “ranjau”. Hal ini menjadikannya rentan terjebak dalam kepentingan politik yang abu-abu.
Dimensi Hukum dan Kesaksian
Dalam persidangan yang berlangsung, nama Presiden saat itu (Jokowi) ikut terseret karena perannya sebagai pendukung utama proyek tersebut. Prof. Didik menyarankan agar Jokowi dihadirkan di pengadilan demi rasa keadilan, meskipun ia mengakui ada hambatan dimensi politik yang tebal dalam proses hukum ini.
Pesan untuk Masa Depan
Prof. Didik berharap kasus ini menjadi pelajaran pahit agar anak muda berprestasi di dunia profesional tidak gegabah masuk ke kubangan politik yang penuh jebakan.
“Orang hebat seperti Mark Zuckerberg atau Elon Musk tidak perlu masuk politik untuk tetap besar di dunianya. Nadiem seperti dimasukkan ke dalam perangkap.” — Prof. Didik J. Rachbini.
Sumber: Diolah dari https://akurat.co/hukum/856657/korupsi-nadiem-berawal-dari-jokowi-yang-silau