“Setiap Anak Berhak Maju”: Bedah Kebijakan Baru Inggris 2026 untuk Siswa Kurang Mampu

GuruBelajar.com — Pemerintah Inggris baru saja meluncurkan dokumen kebijakan (White Paper) bertajuk “Every Child Achieving and Thriving”. Kebijakan ini dianggap sebagai titik balik karena menggeser fokus pendidikan: dari yang semula hanya mengejar nilai akademik sempit, menjadi sistem yang mengutamakan Inklusi(pemerataan dukungan) bagi semua siswa, terutama mereka yang berasal dari latar belakang ekonomi rendah.

Mengapa Kebijakan Ini Muncul?

Data menunjukkan jurang pemisah yang lebar. Siswa dari keluarga kurang mampu 30% lebih kecil kemungkinannya lulus ujian matematika dan bahasa Inggris dibandingkan rekan mereka yang lebih mapan. Selain itu, angka ketidakhadiran dan skorsing melonjak pasca-pandemi.

5 Poin Utama Strategi Inggris 2026:

1. Inklusi Bukan Lagi “Tambahan” Sekolah dirancang agar setiap staf mendukung kesejahteraan dan keamanan siswa. Pemerintah menyiapkan dana sebesar £1,6 miliar (sekitar Rp32 triliun) untuk membangun sekolah arus utama yang inklusif.

2. Fokus pada Kehadiran (Attendance) Bagi siswa kurang mampu, sekolah sering terasa kaku. Kebijakan baru ini menawarkan aktivitas tambahan yang menyenangkan (enrichment) dan dukungan kesehatan mental di sekolah agar siswa betah kembali ke kelas.

3. “Inclusion Base” di Setiap Sekolah Setiap sekolah wajib memiliki ruang aman khusus. Ini bukan tempat “buangan” bagi siswa bermasalah, melainkan pusat bantuan bagi siswa yang memiliki hambatan belajar atau emosional sebelum masalahnya menjadi parah.

4. Menutup Celah Nilai (Attainment Gap) Targetnya adalah memangkas separuh kesenjangan nilai antara siswa kaya dan miskin. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan AI Tutoring (les privat berbasis AI) yang terjangkau untuk membantu siswa mengejar ketertinggalan materi ujian.

5. Mengurangi Skorsing (Suspension) Skorsing luar sekolah akan sangat dibatasi. Fokusnya bergeser pada perbaikan hubungan antara guru dan siswa serta mencari tahu akar masalah perilaku siswa, bukan sekadar menghukum.

“Inklusi dan keunggulan akademik harus berjalan beriringan. Saat siswa merasa memiliki tempat di sekolah, mereka akan berprestasi.” — Carlie Goldsmith, Pakar Kebijakan Pendidikan.

Bagaimana dengan Indonesia?

Kebijakan Pendidikan di Inggris tahun 2026 menyadarkan kita bahwa kualitas pendidikan tidak boleh ditentukan oleh isi dompet orang tua. Jika Indonesia ingin mencetak generasi emas 2045, kita perlu memastikan bahwa “Inklusi” bukan sekadar kata-kata di dokumen negara, tapi dirasakan langsung oleh anak-anak di kelas.

Sumber: https://assets.publishing.service.gov.uk/media/69972c02bfdab2546272c007/Every_child_achieving_and_thriving_print_ready_version.pdf
https://www.impetus.org.uk/news-and-views/schools-white-paper-pupils-disadvantaged-backgrounds

You may also like...