Menjangkau yang Tak Terjangkau: Kemendikdasmen Targetkan 3.500 ATS Kembali Sekolah lewat PJJ

@ Gambar dari Kemendikdasmen
GuruBelajar.com — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, resmi meluncurkan perluasan program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) jenjang menengah ke 34 provinsi pada 2026. Program ini menjadi jawaban nyata bagi sekitar 1,13 juta ATS tingkat menengah yang selama ini terkendala faktor geografis, ekonomi, maupun sosial.
Strategi Digitalisasi: Super Apps & Studio Pembelajaran
Mendikdasmen menekankan bahwa PJJ 2026 bukan sekadar belajar mandiri, melainkan transformasi digital yang terintegrasi:
- Super Aplikasi “Rumah Pendidikan”: Menjadi pusat pembelajaran digital yang dapat diakses secara inklusif.
- Studio Pembelajaran: Pembangunan studio khusus agar guru-guru terbaik dapat mengajar secara real-time kepada siswa di pelosok Nusantara maupun luar negeri.
- Fokus Karakter: Meskipun berbasis daring, program ini tetap mengedepankan pembentukan karakter dan kompetensi siswa melalui pendampingan tutor.
Ekosistem Penyelenggaraan: Sekolah Induk & Mitra
Pemerintah telah membangun struktur pendukung yang solid untuk menjamin kualitas lulusan:
- 21 Sekolah Induk: Bertanggung jawab penuh atas materi belajar, guru PJJ, hingga penerbitan ijazah. Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) menjadi salah satu pusat komando utama untuk anak pekerja migran.
- 62 Sekolah Mitra: Berfungsi sebagai unit layanan lokal, menyediakan ruang belajar luring, dan tutor pendamping bagi siswa di daerah masing-masing.
Siapa Sasaran Utamanya?
Program ini diprioritaskan bagi anak Indonesia berstatus ATS dengan rentang usia 16 hingga 18 tahun, terutama di wilayah:
- Daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar).
- Daerah dengan angka ATS tinggi dan rawan bencana.
- Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN), menyasar anak-anak pekerja migran Indonesia.
“PJJ adalah solusi nyata untuk menjangkau mereka yang tidak terjangkau. Kita ubah paradigma bahwa pendidikan tidak harus selalu di ruang kelas formal.” — Abdul Mu’ti, Mendikdasmen.