Tren Pendidikan 2026: Berakhirnya Era “Beli Dulu, Mikir Belakangan” dalam Teknologi Sekolah

@ Gambar dibuat oleh AI
GuruBelajar.com – Memasuki tahun 2026, percakapan mengenai teknologi di sekolah dari jenjang SD hingga SMA telah berubah secara fundamental. Jika tahun-tahun sebelumnya fokus pada “perangkat apa yang harus dibeli?”, kini mulai bertanya: “Teknologi mana yang benar-benar layak dipertahankan?”
Laporan Tren EdSurge 2026 mengungkapkan bahwa era adopsi teknologi demi teknologi itu sendiri telah berakhir. Setelah percepatan paksa selama pandemi, kini saatnya sekolah melakukan perhitungan matang terhadap efektivitas, privasi, dan dampak psikologis perangkat digital.
1. Perang Melawan “Screen Overload”
Sekolah kini menghadapi tekanan besar dari orang tua yang khawatir akan kesehatan mental anak akibat paparan layar berlebih. Para pemimpin TI sekolah kini harus bekerja keras membedakan antara penggunaan pedagogis (belajar aktif) dengan konsumsi pasif (hanya menggulir konten).
Beberapa ahli bahkan mulai menyarankan pelarangan total perangkat di tingkat PAUD dan kelas rendah SD, dengan argumen bahwa teknologi telah menggeser peran guru dan menghambat penguasaan keterampilan dasar yang krusial.
2. AI Menjadi “Sirup Jagung” dalam Pendidikan
Freddie Cox, CTO dari Tennessee, menganalogikan AI seperti sirup jagung: “Ia akan ada di mana-mana, di setiap produk EdTech, apakah sekolah siap atau tidak.” Tahun 2026 adalah tahun di mana para pemimpin sekolah tidak bisa lagi menutup mata. AI kini menjadi faktor utama dalam setiap keputusan pembelian perangkat lunak, namun tantangannya adalah melatih guru agar tidak tertinggal oleh cepatnya perubahan teknologi ini.
3. Tata Kelola Data: Bukan Lagi Sekadar Masalah IT
Dengan menjamurnya alat AI, masalah data menjadi krusial. AI hanya akan bekerja baik jika didukung data yang akurat. Sekolah kini mulai fokus pada etika, privasi, dan kontrol akses data yang ketat. Contohnya, sistem otomatis yang memastikan bahwa jika seorang guru berpindah peran, aksesnya terhadap data sensitif siswa (seperti dokumen kebutuhan khusus) akan langsung dicabut secara otomatis.
4. Anggaran Mengetat, Standar Meningkat
Seiring berakhirnya dana bantuan pandemi, sekolah kini menghadapi “tebing anggaran”. Setiap investasi teknologi kini harus membuktikan “Return on Instruction” atau hasil nyata terhadap pembelajaran. Sekolah mulai menolak klaim vendor yang hanya menyodorkan metrik kosong seperti jumlah klik, dan lebih memilih konsolidasi platform untuk mengurangi kebingungan guru serta orang tua.
5. Keamanan Siber: Tanggung Jawab Kolektif
AI telah mempermudah serangan phishing yang sangat meyakinkan. Keamanan siber kini bukan lagi sekadar memblokir situs, melainkan membangun budaya waspada. Beberapa sekolah bahkan mulai menerapkan autentikasi multifaktor (MFA) berbasis gambar untuk siswa sekolah dasar dan simulasi serangan siber bagi siswa SMA agar mereka lebih waspada.
Sumber: https://www.edsurge.com/news/2026-01-27-k-12-edtech-in-2026-five-trends-shaping-the-year-ahead