Sosok Pak Sari: Guru dari Wakatobi yang Menanam “Benih” Literasi Samudra di Jantung UNESCO

@ Gambar dari unesco.org

GuruBelajar.com — Di Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara, sebuah cagar biosfer dunia yang ditetapkan UNESCO, nama Sariono lebih dikenal dengan julukan hangat “Pak Guru”. Selama 18 tahun mengabdi di SMPN 01 Wangi-Wangi Selatan, Pak Sari bukan sekadar pendidik di kelas, melainkan penjaga alam yang menyuarakan napas lautan melalui pendidikan dan seni.

Melihat Perubahan Garis Pantai

Tumbuh besar di tepi pantai, Pak Sari menyaksikan sendiri bagaimana pesisir Wakatobi berubah. Pasir putih yang dulu luas kini menyempit akibat abrasi, sampah, dan praktik yang tidak berkelanjutan. Baginya, kebijakan konservasi saja tidak cukup; pendidikan adalah kunci utama untuk menyelamatkan laut.

“Saya sudah tinggal di sini seumur hidup. Anda akan menyadari ketika segala sesuatunya mulai berubah.”— Sariono, Guru SMPN 01 Wangi-Wangi Selatan.

Integrasi Kurikulum: Menghubungkan Kelas dengan Lautan

Melalui proyek Sustaining Our Oceans (SOO) yang diinisiasi oleh UNESCO, Pak Sari membantu mengintegrasikan literasi samudra ke dalam kurikulum formal sekolah. Sebagai guru Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), ia mengubah pelajaran geografi dan ekonomi menjadi ruang diskusi tentang:

  • Mata Pencaharian: Diskusi tentang perikanan berkelanjutan dan dampak pariwisata.
  • Ekosistem Pesisir: Memahami abrasi dan pelestarian mangrove.
  • Pengelolaan Sampah: Bagaimana perilaku manusia berdampak langsung pada laut mereka.

Program ini kini telah menjadi kurikulum pembelajaran tiga tahun yang terstruktur bagi siswa SMP, memastikan literasi laut dibangun secara konsisten dari generasi ke generasi.

Menanam Benih di Pasang Surut

Bagi Pak Sari, upayanya ini adalah investasi jangka panjang. Ia mengibaratkan mendidik siswa seperti menanam bibit bakau di tengah pasang surut air laut—beberapa mungkin hanyut, namun jika benih yang ditanam cukup banyak, suatu hari akan tumbuh menjadi hutan mangrove yang kokoh.

“Harapan saya untuk Wakatobi adalah tumbuhnya masyarakat di mana kesadaran lingkungan mengalir secara alami dalam setiap orang,” tutupnya dengan senyum.

Sumber: https://www.unesco.org/en/articles/teacher-and-tide-how-education-shaping-wakatobis-sustainable-future

You may also like...